kukar





AKUNTABILITAS KINERJA

 

A. Capaian Kinerja Organisasi          

            Adapun indeks Pengukuran kinerja terdiri dari Pengukuran Kinerja Kegiatan dan Pengukuran Pencapaian Sasaran :

  1. Pengukuran Kinerja Kegiatan ( PKK )

 

Untuk mengukur tingkat keberhasilan Dinas Pertanian dan Peternakan maka setiap aktivitas yang dilakukan harus dapat diukur yang dimulai dari input ( masukan ), output  ( keluaran ), outcomes ( hasil ),benefits     ( manfaat ) dan dampak ( impacts ) semua program yang  bertujuan bagi kesejahteraan masyarakat.

Setelah tersusun aktivitas / program kemudian digunakan data tersebut untuk merancang indikator kinerja yang terdiri dari indikator masukan, indikator proses, indikator keluaran, indikator hasil, indikator manfaat dan indikator dampak. Identifikasi dan penetapan indikator-indikator tersebut adalah sebagai berikut :

a. Indikator Masukan ( Inputs ) : mengukur jumlah sumberdaya seperti : dana, SDM, peralatan,material,dan masukan lain yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan sehingga dapat dianalisa alokasi sumberdaya yang dimiliki telah sesuai dengan rencana strategis yang telah ditetapkan.

b. Indikator Keluaran ( Outputs ) : digunakan untuk mengukur keluaran yang dihasilkan dari suatu kegiatan. Dengan membandingkan keluaran dapat dianalisa sejauh mana kegiatan dapat terlaksana sesuai dengan rencana. Indikator ini hanya dapat menjadi landasan untuk menilai kemajuan suatu kegiatan apabila dikaitkan dengan sasaran-sasaran kegiatan yang terdefinisi dengan baik dan terukur.

c. Indikator Hasil ( Outcomes ) : menggambarkan hasil nyata dari keluaran suatu kegiatan. Pada umumnya para pembuat kebijaksanaan paling tertarik pada indikator ini dibandingkan dengan indikator lainnya.Namun informasi yang diperoleh untuk mengukur hasil seringkali tidak lengkap dan tidak mengukur hasil dari keluaran suatu kegiatan.

d. Indikator Manfaat ( Benefits ):menggambarkan manfaat yang diperoleh dari indikator hasil. Manfaat tersebut baru tampak setelah beberapa waktu kemudian, khususnya dalam jangka waktu menengah dan jangka panjang. Indikator manfaat menunjukkan hal-hal yang diharapkan untuk dicapai bila keluaran dapat diselesaikan dan berfungsi dengan optimal (tepat waktu dan tepat lokasi ).

e. Indikator Dampak ( Impacts ):memperlihatkan pengaruh yang ditimbulkan dari manfaat yang diperoleh dari hasil kegiatan dan baru dapat diketahui dalam jangka waktu menengah atau jangka panjang. Indikator dampak menunjukkan dasar pemikiran dilaksanakannya kegiatan yang menggambarkan aspek makro pelaksanaan kegiatan, tujuan kegiatan secara sektoral,regional dan nasional.

 

  1. Pengukuran Pencapaian Sasaran (PPS)

            Untuk mengetahui gambaran mengenai tingkat Pencapaian Kinerja Sasaran dilakukan melalui media Rencana Kinerja yang kemudian dibandingkan dengan realisasinya berupa persentase hasil capaian, seperti berikut ini :

  1. Sasaran Strategis menyajikan sejumlah Sasaran yang ingin dicapai, yaitu pada Rencana Strategis (Renstra) SKPD dan memiliki indikator yang terukur.
  2. Indikator Kinerja menyajikan sejumlah alat ukur yang digunakan guna melihat sampai sejauh mana sasaran tersebut dicapai.
  3. Target menyajikan sejumlah perumusan angka akhir kinerja suatu sasaran yang ingin dicapai.
  4. Realisasi menyajikan realitas angka perolehan pada capaian akhir suatu kegiatan sebagai ukuran pencapaian target sasaran.
  5. Persentase menyajikan perbandingan antara Target yang ingin dicapai dengan realisasi yang telah dicapai berupa satuan persen.  Sehingga hasil persentase mampu menggambarkan predikat capaian sebagai berikut :

- 80 % – 100 %              = baik

- % – 79 %                = Cukup

- %                         = Kurang

 

  • Hasil Pengukuran Kinerja

 

RUANG LINGKUP DAN METODE PENGHITUNGAN

            Pengertian PDRB adalah jumlah nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan dari seluruh kegiatan pekonomian diseluruh daerah dalam tahun tertentu atau perode tertentu dan biasanya satu tahun.
– penghitungan PDRB menggunakan dua macam harga yaitu harga berlaku dan harga konstan. PDRB harga atas harga berlaku merupakan nilai tmabah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada  tahun yang bersangkutan sementasra atas harga konstan dihitung dengan menggunakan harga pada tahun tertentu sebagai tahun dasar.

 

  • Metode penghitungan

 Penghitungan PDRB  dapat dilakukan dengan empat cara pendekatan yaitu :

1. Pendekatan Produksi

Pendekatan Produksi dapat disebut juga pendekatan nilai tambah dimana nilai tambah bruto ( NTB) dengan cara mengurangkan nilai out put yang dihasilkan oleh seluruh kegiatan ekonomi dengan biaya antara dari masing nilai produksi bruto tiap sektor ekonomi. Nilai tambah merupakan nilai yang ditambahkan pada barang dan jasa yang dipain oleh unit produksi sebagai input antara. Nilai yang ditambahkan sama dengan balas jasa faktor produksi atas ikutsertanya dalam proses produksi.

2. Pendekatan Pendapatan

Pada pendekatan ini, nilai tambah dari kegiatan – kegiatan ekonomi dihitung dengan cara menjumlahkan semua balas jasa faktor praoduksi yaitu upah dan gajih, surplus usaha, penyusutan danpajak tak langsung neto. Untuk sektor Pemerintahan dan usaha yang sifatnya tidak mencari keuntunga, surplus usaha ( bunga neto, sewa tanah dan keuntungan ) tidak diperhitungkan.

3. Pendekatan Pengeluaran

Pendekatan ini digunakan untuk menghitung nilai barang dan jasa yang digunakan oleh berbagai golongan dalam masyarakat untuk keperluan konsumsi rumah tangga, pemerintah dan yayasan sosial ; Pembentukan modal; dan ekspor. Mengingat nilai barang dan jasa hanya berasal dari produksi domestik, total pengeluaran dari komponen – komponen di atas harus dikurangi nilai impor sehingga nilai ekspor yang dimaksud adalah ekspor neto. Penjumlahan seluruh komponen pengeluaran akhir ini disebut PDRB atas dasar harga pasar.

4. Metode Alokasi

Metode ini digunakn jika data suatu unit produksi di suatu daerah tidak tersedia. Nilai tambah suatu unit produksi di daerah tersebut dihitung dengsn menggunakan data yang telah dialokasikan dari sumber yang tingkatnya lebih tinggi, misalnya data suatu kabupaten diperoleh dari alokasi data Propinsi.

Beberapa alokator yang digunakan  adalah nilai produksi bruto atau netto, jumlah produksi fisik, tenaga kerja,penduduk, dan alokator lainnya yang dianggap cocok untuk menghitung nilai suatu unit produksi.

            Adapun variabel untuk Peningkatan pengaplikasian paket rekomendasi teknis budidaya dan pengolahan pangan berbasis sumber daya lokal diukur melalui paket rekomendasi yang digunakan dilapangan oleh pelaku utama atas saran dan anjuran Petugas Penyuluh Lapangan , Sedangkan Pertumbuhan Ternak didapat dari jumlah populasi/ekor di kelompok peternak yang ada di kabupaten Kutai Kartanegara.

            Pada hakekatnya, pembangunan ekonomi adalah serangkaian usaha dan kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, memperluas lapangan kerja, memeratakan distribusi pendapatan masyarakat, meningkatkan hubungan ekonomi regional dan melalui pergeseran kegiatan ekonomi dari sektor primer ke sektor sekunder dan tersier. Dengan perkataan lain arah dari pembangunan ekonomi adalah mengusahakan agar pendapatan masyarakat naik, disertai dengan tingkat pemerataan yang sebaik mungkin.

            Pengukuran tingkat capaian kinerja Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kutai Kartanegara  tahun Renstra (2016 – 2021) dilakukan dengan cara membandingkan realisasi  per tahun masing-masing indikator kinerja  sasaran,dan untuk 2019 ada 3 (Tiga) Sasaran yang dapat diukur yaitu :

  1. Pertumbuhan/Kontribusi PDRB sub sektor Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura.
  2. Meningkatnya Populasi ternak
  3. Peningkatan pengaplikasian paket rekomendasi teknis budidaya dan pengolahan pangan berbasis sumber daya lokal.

Adapun rincian tingkat capaian kinerja  masing-masing indikator tersebut dapat diilustrasikan dalam Tabel realisasi capaian kinerja SKPD tahun Renstra 2016 2021  berikut :

                    I.  Tabel realisasi capaian kinerja SKPD tahun Renstra 2016 – 2018

Realisasi Indikator Kinerja 2018

  •  

SASARAN STRATEGIS

INDIKATOR KINERJA

TARGET (%)

REALISASI (%)

  1.  
  1.  

Meningkatnya kontribusi PDRB sub sektor Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura

Pertumbuhan/kontribusi PDRB sub sektor Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura

  1.  

0,85

 

Tidak Tercapai

 

 

Padi sawah

1.1

-0,18

Tidak Tercapai

 

 

Padi Ladang

0.65

0,12

Tidak Tercapai

 

 

  •  

1.4

0,36

Tidak Tercapai

 

 

  •  

0.0003

-0,13

Tidak Tercapai

 

 

Ubi kayu

0.002

0,64

Tercapai

 

 

Ubi jalar

0.002

0,25

Tercapai

 

 

Kacang Tanah

0.09

-0,04

Tidak Tercapai

 

 

Tanaman Buah

0.9

-0,08

Tidak Tercapai

 

 

Tanaman Sayuran

1.2

-0,08

Tidak Tercapai

  1.  

Meningkatnya Populasi ternak

Persentase Pertumbuhan populasi Ternak

  •  
  1.  

 

 

 

  • sapi potong

39085

54

Tidak Tercapai

 

 

  • Kerbau

4,278

51

Tidak Tercapai

 

 

  • Kambing

9,760

102

Tercapai

 

 

  • Babi

5,548

60

Tidak Tercapai

 

 

  • ayam ras pedaging

18,522,849

17

Tidak Tercapai

 

 

  • ayam buras

1,483,055

23

Tidak Tercapai

 

 

  • ayam ras petelur

375,623

44

Tidak Tercapai

 

 

  • Itik

50,030

121

 

  •  
  1.  

Peningkatan pengaplikasian paket rekomendasi teknis budidaya dan pengolahan pangan berbasis sumber daya lokal

Persentase paket rekomendasi teknis yang diaplikasikan

75 % dari paket rekomendasi

47 % dari paket rekomendasi

Tidak Tercapai

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Evaluasi dan Analisis Kinerja Sasaran

            Analisis dan evaluasi capaian kinerja tahun 2018 dari Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kutai Kartanegara melalui  Tabel realisasi capaian kinerja SKPD tahun Renstra 2016 - 2021 dapat dijelaskan sebagai berikut :

Sasaran : 1

Meningkatnya kontribusi PDRB sub sektor Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura

Sasaran : 2

Meningkatnya Populasi ternak

Sasaran : 3

Peningkatan pengaplikasian paket rekomendasi teknis budidaya dan pengolahan pangan berbasis sumber daya local

Tabel  perbandingan laju pertumbuhan (Menunjukkan pertumbuhan produksi barang dan jasa di suatu wilayah perekonomian dalam selang waktu tertentu)

No.

Komoditi

PDRB 2019

PDRB 2018

Laju Pertumbuhan 

 
 

1

Padi sawah

-0,18

-0.02

-0,17

 

2

Padi ladang

0,12

0.42

-0,29

 

3

Jagung

0,36

-0.04

0,40

 

4

Kacang Kedelai

-0,13

-0.80

0,67

 

5

Ubi kayu

0,64

-0.25

0,89

 

6

Ubi rambat

0,25

0.03

0,22

 

7

Kacang tanah

-0,04

0.04

-0,08

 

8

Buah

-0,08

1.18

-1,26

 

9

Sayur

-0,08

2.49

-2,58

 

Berdasarkan rencana strategis indikator keberhasilan pencapaian kinerja produksi tanaman pangan tahun 2018 dengan  pencapaian masing-masing komoditas tanaman pangan mencakup usaha penajaman program dan kegiatan yang diharapkan berbanding lurus terhadap hasil ;

Adapun hasil realisasi ini di evaluasi dengan ;

            merunut tabel perbandingan laju pertumbuhan menunjukan pelambatan apabila dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi merupakan kondisi utama bagi kelangsungan pembangunan ekonomi daerah. Untuk mengukur kemajuan perekonomian daerah dengan mengamati seberapa besar laju pertumbuhan ekonomi yang dicapai daerah tersebut yang tercermin dari kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

            Laju Pertumbuhan ini mengalami Pelambatan karena banyak yang mempengaruhinya, seperti: Tabungan, Kredit, PAD dan Belanja Daerah.

Kebijakan pemerintah dapat diambil secara tepat apabila berdasar pada informasi statistik yang akurat dan tepat waktu. Informasi tersebut selain menunjukkan perkembangan hasil pembangunan juga memperoleh masalah dan tantangan yang harus dihadapi. Tujuan pembangunan daerah secara umum adalah untuk mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Di dalam pembangunan ekonomi selalu muncul polemik dalam menentukan strategi dasar pembangunannya, yaitu memprioritaskan pada pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi itu sendiri artinya adalah suatu tingkat perubahan ekonomi yang berlangsung dari tahun ke tahun. Ini berarti bahwa untuk melihat pertumbuhan ekonomi suatu daerah, harus membandingkan pendapatan rill daerah yang bersangkutan dari tahun ke tahun. 

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan nilai tambah bruto seluruh barang dan jasa yang tercipta atau dihasilkan di wilayah domestik suatu negara yang timbul akibat berbagai aktivitas ekonomi dalam suatu periode tertentu tanpa memperhatikan apakah faktor produksi yang dimiliki residen atau non-residen. Penyusunan PDRB dapat dilakukan melalui 3 (tiga) pendekatan yaitu pendekatan produksi, pengeluaran, dan pendapatan yang disajikan atas dasar harga berlaku dan harga konstan (riil).PDRB atas dasar harga berlaku atau dikenal dengan PDRB nominal disusun berdasarkan harga yang berlaku pada periode penghitungan, dan bertujuan untuk melihat struktur perekonomian. Sedangkan PDRB atas dasar harga konstan (riil) disusun berdasarkan harga pada tahun dasar dan bertujuan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi.

Laju pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto diperoleh dari perhitungan PDRB atas dasar harga konstan. Laju pertumbuhan tersebut dihitung dengan cara mengurangi nilai PDRB pada tahun ke-n terhadap nilai pada tahun ke n-1 (tahun sebelumnya), dibagi dengan nilai pada tahun ke n1, kemudian dikalikan dengan 100 persen. Laju pertumbuhan menunjukkan perkembangan agregat pendapatan dari satu waktu tertentu terhadap waktu sebelumnya.

 

 

 

Harga Berlaku adalah penilaian yang dilakukan terhadap produk barang dan jasa yang dihasilkan ataupun yang dikonsumsi pada harga tahun sedang berjalan.

Harga Konstan adalah penilaian yang dilakukan terhadap produk barang dan jasa yang dihasilkan ataupun yang dikonsumsi pada harga tetap di satu tahun dasar.

Tahun Dasar adalah tahun terpilih sebagai referensi statistik, yang digunakan sebagai dasar penghitungan tahun-tahun yang lain. Dengan tahun dasar tersebut dapat digambarkan seri data dengan indikator rinci mengenai perubahan/pergerakan yang terjadi.

 

Kegunaan/manfaat Produk Domestik Regional Bruto ;

1.PDRB harga berlaku (nominal) menunjukkan kemampuan sumber daya ekonomi yang dihasilkan oleh suatu wilayah. Nilai PDRB yang besar menunjukkan kemampuan sumber daya ekonomi yang besar, begitu juga sebaliknya.

2.PDRB harga konstan (riil) dapat digunakan untuk menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan atau setiap kategori dari tahun ke tahun.

Perbandingan Perubahan Konsep dan Metode Perhitungan PDRB

  •  

Konsep Lama

Konsep Baru

Output Pertanian

Hanya mencakup output pada saat panen

Output pada saat panen ditambah nilai hewan dan tumbuhan yang belum menghasilkan

  • Sumber BPS Kutai Kertanegara

 

Terkait dengan tugas dan fungsi Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kutai Kartanegara, kondisi realisasi dari variable yang diukur banyak dipengaruhi antara lain :

1.Kurangnya dukungan anggaran

2.Kurangnya dukungan Staf terhadap Komitmen Pimpinan

3.Keterbatasan sumber daya manusia yang dimiliki

4.Keterbatasan Benih Bermutu

5.Penggunaan pupuk dan pestisida belum optimal

6.Ketersediaan alat mesin pertanian belum cukup

7.Penanganan pengendalian serangan OPT masih minim

8.Pengolahan dan pemasaran hasil belum optimal

9.Intensitas pembinaan dan monitoring kegiatan lapangan belum optimal

10.Pemetaan wilayah komoditas prioritas belum jelas

11.Belum tersedia data dan informasi secara online

12.Masih Rendahnya kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kutai Kartanegara.

13.Sistem irigasi pertanian dan infrastruktur jalan usaha tani belum mampu mendukung untuk berkembangnya produksi dan pemasaran hasil pertanian dan Peternakan secara memadai.

14.Kecenderungan meningkatnya alih fungsi lahan pertanian dan Peternakan khususnya lahan sawah ke sektor penggunaan lain.

15.Jalinan kerjasama kemitraan dan keterkaitan usaha di dalam internal sub sektor pertanian dan Peternakan maupun eksternal (dengan sub sektor/sektor lainnya) masih lemah serta pemasaran produk masih terbatas di tingkat lokal.

16.Semakin meningkatnya harapan & tuntutan masyarakat akan reformasi birokrasi menuju terwujud-nya pelayanan bidang pertanian dan Peternakan yang mampu memuaskan masyarakat.

  1. Lambatnya perkembangan, penyebaran, dan penyerapan teknologi           pengolahan pangan lokal untuk meningkatkan kepraktisan dalam        pengolahan, nilai gizi, nilai ekonomi, nilai sosial, citra, dan daya terima.

18.       Faktor-faktor pengalaman usaha, modal usaha, jumlah ternak, jumlah       tenaga kerja, pendidikan pengelola, ransum makanan dan pemberian      obat-obatan baik secara bersama-sama maupun sendiri mempengaruhi    keberhasilan peternakan.

            Kesuburan Tanah dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya ;

Tanah (bahasa Yunani: pedon; bahasa Latin: solum) adalah bagian kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik. Tanah sangat vital peranannya bagi semua kehidupan di bumi karena tanah mendukung kehidupan tumbuhan dengan menyediakan hara dan air sekaligus sebagai penopang akar. Struktur tanah yang berongga-rongga juga menjadi tempat yang baik bagi akar untuk bernapas dan tumbuh. Tanah juga menjadi habitat hidup berbagai mikroorganisme. Bagi sebagian besar hewan darat, tanah menjadi lahan untuk hidup dan bergerak.

Ilmu yang mempelajari berbagai aspek mengenai tanah dikenal sebagai ilmu tanah. Dari segi klimatologi, tanah memegang peranan penting sebagai penyimpan air dan menekan erosi, meskipun tanah sendiri juga dapat tererosi. Komposisi tanah berbeda-beda pada satu lokasi dengan lokasi yang lain. Air dan udara merupakan bagian dari tanah.

Kesuburan tanah tergantung pada keseimbangan empat faktor yaitu air, oksigen, unsur hara, kondisi fisik dan unsur toksik (zat penghambat). Kelima factor ini tidak boleh bertindak sebagai factor pembatas yang keterlaluan, karna akan mengakibatkan ‘ke-optimuman’ faktor-faktor yang lain jadi tidak bermanfaat lagi.

a.         Air
Sekitar 500 gram air diperlukan untuk menghasilkan 1 gram bahan tumbuhan kering. Sekitar 5 gram atau 1 persen air ini menjadi bagian terpadu dari tumbuhan. Sisanya hilang melalui stomata pada daun selama penyerapan karbondioksida. Keadaan atmosfer seperti kelembaban dan suhu nisbi memainkan peran utama dalam menentukan seberapa cepat air itu hilang dan jumlah air yang diperlukan tumbuhan.

Karena pada hakikatnya pertumbuhan semua tanaman pertanian akan dibatasi bila terjadi kekurangan air. Meskipun keadaannya mungkin sementara dan tanaman tidak dalam bahaya kematian, kemampuan tanah untuk menahan air terhadap gaya tarik bumi menjadi sangat penting kecuali jika air hujan atau irigasi mencukupi. Keperluan akan pembuangan kelebihan air dari tanah berkaitan dengan keperluan untuk oksigen.

Tanah yang subur akan memberikan kecukupan air yang seimbang bagi tanaman. Karena kekurangan maupun kelebihan, keduanya akan menjadi penghambat bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

b.         Oksigen
Oksigen mutlak di butuhkan untuk proses pembakaran fisiologis atau respirasi. Jika dalam pertumbuhannya akar kekurangan oksigen maka respirasi akan terganggu dan penyerapan bahan-bahan organik yang berasal dari tanah yang digunakan sebagai bahan dasar fotosintesis akan berkurang sehingga kesehatan tanaman pun akan menurun. Akar mempunyai lubang-lubang yang disebut lentisel yang memungkinkan pertukaran gas. Oksigen berdifusi ke dalam sel-sel akar dan digunakan untuk pernafasan, sedangkan karbondioksida berdifusi ke dalam tanah. Pernafasan melepaskan energy yang diperlukan tanaman untuk sintesa dan translokasi senyawa-senyawa organic dan pengumpulan aktif ion-ion hara untuk melawan gradient konsentrasi.

Alat Pengukur Kadar Air Tanah

Beberapa tanaman, misalnya padi, dapat tumbuh dalam air tergenang karena tanaman ini mempunyai struktur morfologi yang memungkinkan difusi intern oksigen atmosfer ke dalam jarring-jaring akar. Produksi yang berhasil pada kebanyakan tanaman dalam kultur air memerlukan adanya aerasi pada larutan tersebut. Perbedaan besar yang terdapat diantara tumbuhan-tumbuhan adalah dalam hal kemampuannya untuk toleran terhadap kadar oksigen yang rendah. Tumbuhan yang peka mungkin layu atau mati karena penjenuhan tanah air dengan air selama sehari. Kelayuan ini diperkirakan terjadi karena pengurangan permiabilitas sel-sel akar terhadap air, sebagai akibat dari gangguan proses metabolism karena kekurangan oksigen.

            Mikroorganisme aerob, bakteri, aktinomicetes, dan fungi memanfaatkan oksigen dari atmosfer tanah dan sangat bertanggungjawab terhadap perubahan hara dari bahan organic menjadi bentuk larut yang dapat digunakan kembali oleh tumbuhan.

c.         Unsur - unsur hara yang Esensial
            Unsur-unsur hara dalam tanah pun ikut berperan dalam menentukan kesuburan tanah. Paling sedikit ada 16 unsur yang kini dianggap perlu untuk pertumuhan tanaman berpembuluh. Karbon, hydrogen dan oksigen yang digabungkan dalam rekasi fotosintesis, diperoleh dari udara dan air. Unsure-unsur ini menyusun 90 persen atau lebih bahan kering. 13 unsur sisanya, sebagian besar diperoleh dari tanah. Nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, magnesium dan belerang diperlukan dalam jumlah besar dan disebut unsure-unsur makro. Hara yang diperlukan dalam jumlah cukup kecil disebut unsure mikro atau perunut (trace element) dan meliputi mangan, besi, boron, seng, tembaga, molybdenum, dan klor.

Alat uji Kadar Air Tanah

Lebih dari 40 unsur tambahan telah ditemukan dalam tumbuhan. Beberapa tumbuhan mengumpulkan unsure-unsur yang tidak penting tetapi mempunyai pengaruh yang menguntungkan. Contohnya, penyerapan natrium oleh seledri, dan hasilnya, dalam hal ini, adalah perbaikan dalam rasa.

Kebanyakan hara terdapat dalam mineral dan bahan organic, dan dalam keadaan demikian tidak larut dan tidak tersedia bagi tumbuhan. Hara menjadi tersedia melalui pelapukan mineral dan penguraian bahan organic. Memang jarang tanah yang mampu menyediakan semua unsure penting selama jangka waktu yang panjang dalam jumlah yang diperlukan untuk menghasilkan produk yang tinggi. Namun tanah yang subur akan memiliki sebagian besar unsure hara yang diperlukan oleh tanaman.

            Lambatnya perkembangan, penyebaran, dan penyerapan teknologi pengolahan pangan lokal untuk meningkatkan kepraktisan dalam pengolahan, nilai gizi, nilai ekonomi, nilai sosial, citra, dan daya terima.            Serta Kurangnya pengalaman usaha, modal usaha, jumlah ternak, jumlah tenaga kerja, pendidikan pengelola, ransum makanan dan pemberian obat-obatan baik secara bersama-sama maupun sendiri mempengaruhi  keberhasilan peternakan.

  • Selain narasi di atas, Indikasi yang dapat dianalisa terhadap kondisi komoditas yang diukur tersebut antara lain :
  1. Peningkatan kesuburan tanah belum maksimal.
  2. Penurunan luas tanam .
  3. Alih fungsi lahan/konversi lahan.
  4. Penurunan daya dukung tenaga kerja.
  5. Anomali iklim.
  6. Penurunan luas panen.
  7. Teknologi budidaya yang tidak berubah.
  8. Kurangnya Pengawasan yang berkualitas.
  9. Trend permintaan pasar.
  10. Khusus komoditi jagung pengaruh terbesarnya yaitu panen muda.
  11. Keragaman agroklimat (terapan iklim dan topograpi).
  12. Penyediaan dan penyaluran ALSINTAN yang kurang tepat.
  13. Optimalisasi lahan yang kurang.
  14. Fasilitas penunjang pertanian (jalan usaha tani,irigasi) yang kurang.
  15. Fasilitas pengolahan pasca panen yang kurang berkembang/pemanfaatannya masih rendah.
  16. Belum meratanya penggunaan varietas unggul.
  17. Bertambahnya keragaman komoditi yang dibudidayakan.
  18. Tren pasar yang tinggi terhadap komoditi yang dibudidayakan.
  19. Kurangnya pengalaman usaha, modal usaha jumlah ternak, jumlah tenaga kerja, pendidikan pengelola, ransum makanan dan pemberian obat-obatan baik secara bersama-sama maupun sendiri mempengaruhi  keberhasilan peternakan.
  20. tata ruang daerah untuk pengembangan komoditas peternakan yang difokuskan pada suatu lokasi atau wilayah secara terpadu belum sesuai dengan peruntukan.
  21. Pembangunan Peternakan masih terkotak – kotak serta kurangnya koordinasi masyarakat (peternak, koperasi dan swasta) ke pemerintah kabupaten dalam rangka pelaksanaan Otonomi Daerah
  22. Belum fokusnya pembangunan Peternakan yang diarahkan untuk menumbuh-kembangkan ekonomi perdesaan yang mandiri.
  23. Kurangnya pendayagunaan aparatur yang berkompeten, PPL dan/atau tenaga ahli dalam mengawal dan memfasilitasi pengembangan budidaya tanaman dan peternakan.
  24. Masih rendahnya penerapan dan pengembangan paket teknologi yang sesuai dalam intensifikasi budidaya tanaman pangan dan hortikul-tura yang didukung dengan pengembangan kemapuan SDM petani.

 

 

NO

PROGRAM KEGIATAN

PAGU (Rp)

REALISASI (Rp)

%

1

2

3

4

5

I 

Program Pelayanan Administrasi Perkantoran

     

1

Penyediaan jasa surat menyurat

5.800.000,00

4.347.000,00

74,95%

2

Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik

652.408.600,00

418.076.679,00

64,08%

3

Penyediaan jasa pemeliharaan dan perizinan kendaraan dinas/operasional

130.000.000,00

41.501.200,00

31,92%

4

Penyediaan jasa administrasi keuangan

662.520.000,00

618.190.000,00

93,31%

5

Penyediaan jasa perbaikan peralatan kerja

60.000.000,00

34.411.000,00

57,35%

6

Penyediaan alat tulis kantor

200.000.000,00

197.358.300,00

98,68%

7

Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor

102.660.000,00

97.377.950,00

94,85%

8

Penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor

354.689.000,00

291.785.450,00

82,27%

9

Penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan

49.997.400,00

49.980.000,00

99,97%

10

Penyediaan bahan logistik kantor

81.000.000,00

62.251.000,00

76,85%

11

Penyediaan makanan dan minuman

150.000.000,00

79.737.500,00

53,16%

 

Penyediaan Jasa Administrasi Tekhnis Perkantoran

2.300.000.000,00

2.146.904.160,00

93,34%

12

Penyediaan barang cetakan dan penggandaan

102.900.000,00

98.820.000,00

96,03%

13

Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke dalam daerah dan ke luar daerah

942.165.826,00

941.938.711,00

99,98%

14

Fasilitasi UPT Penyuluhan Pertanian dan Peternakan Kecamatan

780.000.000,00

779.250.000,00

99,90%

II

Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur

 

 

 

15

Pengadaan Kendaraan Dinas/Operasional

2.357.863.000,00

0,00

0,00%

16

Pemeliharaan rutin/berkala mobil jabatan

80.000.000,00

76.646.256,00

95,81%

17

Pemeliharaan rutin/berkala mobil jabatan

80.000.000,00

79.242.499,00

99,05%

18

Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional

317.000.000,00

311.946.989,00

98,41%

19

Rehabilitasi sedang/berat rumah gedung kantor

961.797.000,00

877.702.258,00

91,26%

20

Perencanaan Pembangunan Gedung Kantor

174.128.000,00

150.418.500,00

86,38%

III

Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur

 

 

 

21

Fasilitasi Tim Bekias RB

100.000.000,00

48.617.000,00

48,62%

 

 

 

 

 

 

 

IV

Program Peningkatan Pengembangan Sistem Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan

 

 

 

22

Penyusunan Dokumen Perencanaan dan Laporan Kinerja Serta Monev

575.000.000,00

558.143.330,00

97,07%

23

Inventarisasi Barang Milik Daerah

60.000.000,00

38.142.000,00

63,57%

24

Manajemen absensi dan simpeg

75.000.000,00

74.446.400,00

99,26%

V

Program Peningkatan Kesejahteraan Petani

 

 

 

25

Verifikasi Kelompok dan Calon Penerima Ternak Pemerintah

75.000.000,00

75.000.000,00

100,00%

VI

Program Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi pertanian

 

 

 

26

Pengembangan Kerjasama Kemitraan Usaha Agribisnis

100.000.000,00

97.785.000,00

97,79%

VII

Program Peningkatan Penerapan Teknologi Pertanian

 

 

 

27

Pengadaan Sarana dan Prasarana Pertanian

4.060.000.000,00

3.418.721.700,00

84,20%

28

 Bimbingan Teknis Pengembangan Teknologi Produksi Pupuk Organik dan Pestisida Nabati/Agens Hayati

225.000.000,00

188.105.000,00

 

83,60%

 

 29

Pengadaan pupuk kelompok Tani Desa Bukit pariaman dan Desa Bukit Raya

320.000.000,00

287.729.250,00

89,92%

30

Pengelolaan Taman Teknologi Pertanian (TTP) Tenggarong Seberang

500.000.000,00

493.086.252,00

98,62%

 

31

 

Penerapan Teknologi Budidaya Padi Sawah

5.032.337.000,00

0,00

0,00%

VIII

Program Peningkatan Produksi Pertanian

 

 

 

32

Pengembangan Perbenihan / Pembibitan Tanaman Pangan

1.058.431.000,00

918.885.300,00

86,82%

33

Pengendalian OPT Pada Daerah Endemis Dan Pemasyarakatan PHT

100.000.000,00

99.682.000,00

99,68%

34

Pengembangan budidaya tanaman buah-buahan unggul

250.000.000,00

229.596.000,00

91,84%

35

Pengembangan budidaya tanaman sayuran, tanaman hias dan biofarmaka

882.780.000,00

599.380.600,00

67,90%

 36

Intensifikasi Pengembangan Padi sawah

4.936.720.000,00

4.407.277.990,00

89,28%

37

Pendampingan UPSUS Padi, Jagung, Bawang, dan Cabe

300.000.000,00

283.709.202,00

94,57%

 

 

 

 

 

 

 

 

 

IX

Program Pemberdayaan Penyuluh Pertanian Lapangan

 

 

 

38

Peningkatan Kemampuan Lembaga Petani-Nelayan

1.200.000.000,00

915.034.000,00

76,25%

39

Mengikuti PEDA ( Pekan Daerah) / PENAS

2.500.000.000,00

2.246.243.000,00

89,85%

40

Kegiatan Penyuluh Pertanian

1.547.950.000,00

1.016.554.500,00

65,67%

41

Pertemuan Kelompok Tani KTNA Kab.Kukar

250.000.000,00

193.441.600,00

77,38%

X

Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Ternak

 

 

 

42

Pengadaan obat-obatan ternak

350.000.000,00

342.282.300,00

97,79%

43

Pengadaan Perelatan Medis Peternakan

227.220.000,00

224.479.450,00

98,79%

 

 

 

 

 

44

Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Ternak/Hewan

300.000.000,00

274.299.500,00

91,43%

XI

Program Peningkatan Produksi Hasil Peternakan

 

 

 

45

Pembangunan Sarana dan Prasarana Ternak

65.000.000,00

64.647.800,00

99,46%

46

Pengembangan Ternak Ruminansia

250.000.000,00

197.224.600,00

78,89%

47

Pembangunan Pusat Kesehatan Hewan (DAK 2019)

500.000.000,00

488.310.100,00

97,66%

 

 

 

 

 

XII

Program peningkatan penerapan teknologi penyuluhan pertanian

 

 

 

48

Demplot Budidaya Jagung

150.000.000,00

118.314.000,00

78,88%

49

Pembinaan dan Supervisi Penyuluh

200.000.000,00

162.470.000,00

81,24%

XIII

Program Revolusi Jagung

 

 

 

50

Pengembangan dan Penerapan Teknologi Budidaya Jagung

3.359.458.860,00

3.201.667.920,00

95,30%

51

Pengembangan komoditi Jagung / Program Revolusi Jagung

1.089.400.000,00

915.875.762,00

84,07%

52

Sosialisasi program pengembangan "Revolusi" Jagung

400.000.000,00

349.946.120,00

87,49%

53

Penyediaan ALSINTAN budidaya dan pasca panen jagung

4.045.000.000,00

2.683.006.600,00

66,33%

54

Fasilitasi pengolahan lahan budidaya jagung (operasional traktor roda 4)

300.000.000,00

129.765.000,00

43,26%

55

Pengumpulan/analisis harga pasar dan harga standar komoditas jagung

300.000.000,00

298.000.000,00

99,33%

XIV

Program Peningkatan Penerapan Teknologi Peternakan

 

 

 

56

Pengembangan Inseminasi Buatan (IB)

200.000.000,00

191.381.100,00

95,69%

 

 

 

 

 

57

Pendampingan UPSUS SIWAB

194.029.000,00

170.753.900,00

88,00%

58

Pengadaan Alat Mesin Peternakan

250.000.000,00

238.816.500,00

95,53%

XV

Program penyediaan dan pengembangan prasarana dan sarana pertanian

 

 

 

59

Perencanaan Pembuatan / Peningkatan Prasarana dan Sarana Pertanian

200.000.000,00

194.678.500,00

97,34%

60

Pembuatan/peningkatan prasarana irigasi pertanian tesier/JITUT

100.000.000,00

98.004.430,00

98,00%

61

Pembuatan/Peningkatan Jalan Pertanian

2.000.000.000,00

237.778.302,00

11,89%

62

 Pembinaan Pengelolaan Sarana dan Prasarana Pertanian (pendampingan kegiatan DAK dan APBN)

250.000.000,00

244.092.600,00

97,64%

63

Pembuatan Pintu saluran irigasi Kelompok tani Kelurahan Bukit Biru

180.000.000,00

170.481.753,00

94,71%

64

Pembangunan DAM Parit (DAK 2019)

500.000.000,00

491.280.000,00

98,26%

65

Pembangunan Pintu Air (DAK 2019)

239.065.000,00

239.065.000,00

100,00%

66

Pembangunan Jalan Usaha Tani Tanaman Pangan (DAK 2019)

600.000.000,00

599.130.000,00

99,86%

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

67

Pembangunan Jalan Produksi Hortikultura (DAK 2019)

400.000.000,00

399.010.000,00

99,75%

68

Pembuatan Pintu Air,Irigasi Persawahan RT.05 Ds.Semangko

190.000.000,00

24.096.000,00

12,68%

 

Realisasi

51.532.319.686,00

36.296.322.813,00

70,43%

 

Adapun pada realisasi capaian per program dan kegiatan diatas, dapat dijelaskan sebagai berikut :

 

  1. Pada tahun anggaran 2019 Dinas Pertanian dan Peternakan kabupaten Kutai Kartanegara mendapatkan pagu dana Rp 51.532.319.686,-
  2. Dari pagu dana  Rp 51.532.319.686,- pada akhir anggaran tahun berjalan untuk keuangannya terrealisasi sebesar 70.43 % atau Rp 36.296.322.813,-
  3. Dari pagu dana  Rp 51.532.319.686,- terdapat :
  1. Kegiatan dengan sumber dana alokasi khusus (DAK) Rp 1.739.065.000,-
  1. Adapun narasi yang dapat dituangkan atas realisasi keuangan yang tercapai        (81.98%) yaitu;
  • Persentase menyajikan perbandingan antara Pagu Anggaran yang tersedia dengan realisasi yang telah dicapai berupa satuan persen.  Sehingga hasil persentase mampu menggambarkan predikat capaian sebagai berikut :

- 80 %  –  100 %                       = baik

- %  –  79 %                         = Cukup

            - < 50 %                                   = Kurang

  • Berdasarkan ilustrasi poin pertama maka dapat dikategorikan Cukup untuk realisasi keuangan tahun anggaran 2019.
  • Adapun hanya kategori Cukup tersebut salah satunya dikarenakan sistematik Perbup 26 tahun 2013 yang harus dilewati/diikuti oleh Perangkat Daerah.